by

Rajawali Bandung Terbang Mendunia

-Tekno-199 views

MARGOPOST.COM  |  — Dalam versi militernya, CN-235-220 dan NC-212i andal sebagai penjaga pantai, ngarai, dan  medan bergunung-gunung. Mampu beroperasi siang atau malam dalam segala cuaca. Reputasinya diakui dunia internasional.

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) seperti telah menjadi tamu tetap di Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition (LIMA). LIMA merupakan ajang pameran wahana angkatan laut dan udara, yang dihelat dua tahun sekali di Langkawi, Malaysia. Dalam event bergengsi yang berlangsung di  akhir Maret lalu itu, PTDI memamerkan produk-produk unggulannya.

Salah satunya adalah CN-235 Gunship Marine Patrol Aircraft (MPA). Secara umum, PMA buatan PT Dirgantara tidak berbeda dari abang-abangnya dari generasi CN-235. Namun sebagai generasi baru, CN-235-220 Gunship itu tampak lebih streamline dengan hidung  yang  lancip. Pesawat ini juga lebih lincah, maneuverable, berkat pengembangan avionik dan kekuatan bodinya guna menahan G-Force yang lebih besar.

Yang membuat versi militernya menonjol tentu karena adanya “jendela” di mana moncong senapan mesin boleh beraksi. Ada satu di lambung kiri, dan satu lainnya di kanan. Pilihan lain kanon kaliber 30 mm di kabin belakang. Sebagai fitur opsional, ada “sayap mini” (stubwing) di sisi kompartemen ban (sponsor undercarriage), tempat menggantungkan rel peluncur roket. Bila kurang, ada rel peluncur torpedo yang bisa dipasang di bawah kedua sayap.

Lantas, yang khas pada keluarga CN-235 dalam versi militer ialah ramp door di bagian pantat yang membuatnya lebih serba guna. Pintu belakang ini dapat dipakai untuk kargo, memanfaatkan daya angkutnya yang besar, lebih dari 5 ton.

Kementerian Pertahanan RI telah mengoperasikan dua unit tipe CN-235-220 MPA ini untuk TNI-AL.  Yang pertama diserahterimakan awal 2018  dan yang kedua akhir Januari lalu. PTDI pun masih sibuk menyiapkan pesawat patroli maritim ini untuk Malaysia dan Filipina.

Keluarga CN-235 ini ternyata mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Diproduksi untuk kali pertama pada 33 tahun silam, hingga saat ini pesawat dengan dua mesin turboprop buatan General Electric kelas CT-7-9C ini masih bisa bersaing. Ada versi sipil dan militer. Yang militer pun ada versi patroli (juga SAR), dan pengangkut personel. Tidak heran bila populasi CN-235 itu, dengan berbagai variannya, kini mencapai 230 unit di seluruh dunia dan mencatat 500 ribu jam terbang.

Tapi, untuk keperluan militer taktis, PT Dirgantara juga menawarkan jenis pesawat yang lebih kecil NC-212i , N219. Ada pula CN-295 yang ukurannya lebih besar dari CN-235. Sebagai pesawat angkut, kapasitas CN-235 hanya 40 orang. Sedangkan CN-295 mampu mengangkut 72 orang. Namun, CN-295 sepenuhnya dirancang oleh Casa Spanyol dan PD Dirgantara sebatas merakitnya. Untuk menunjang bisnisnya, PT Dirgantara juga menawarkan layanan maintenancerepair, dan overhaul.

Dikembangkan dan diproduksi bersama perusahaan Spanyol Casa, CN-235 memiliki reputasi cukup tinggi. Angkatan Bersenjata Turki mengoperasikan 59 unit. Irlandia, Uni Emirat Arab, Meksiko, dan sejumlah negara Amerika latin juga memanfaatkannya sebagai pesawat patroli maritim. Semuanya produksi di Spanyol.

Sedangkan yang produksi PT Dirgantara dioperasikan costal guard Korea (20 unit), Angkatan Udara Malaysia (8 unit), Pakistan (4 unit), dan Brunei Darrussalam. Filipina dan Thailand sementara ini menggunakannya untuk keperluan sipil. Namun, Thailand juga memesan 10 unit untuk versi militer. Begitu halnya Bangladesh, Nepal, Filipina, Papua Nugini, dan Australia.

Dengan kecepatan jelajah 450 km/jam, dan hanya memerlukan landasan pacu yang pendek, CN-235 telah terbukti bisa melayani kebutuhan taktis militer.CN-235 kuat bak Hercules C-130 versi kecil. Ia mampu menerjang semua medan, segala cuaca, sehingga bisa diandalkan untuk patroli di atas laut, padang pasir, atau hutan pegunungan. Ia bak rajawali yang perkasa.

CN-235-200 ini dilengkapi sejumlah radar terbaru. Ada search radar untuk mengidentifikasi benda-benda khusus di permukaan bumi atau permukaan laut. Ada FLIR  (Forard Looking Infrared), yakni  sensor infra merah untuk  mengidentifikasi benda-benda panas di depan (pesawat terbang, kapal, dan kendaraan bermotor di darat) yang diperlihatkan lewat AIS (Automatic Indentification System).

Pesawat tersebut juga memiliki radar penerbangan standar untuk memeriksa kontur (gunung atau bangunan tinggi). Dengan demikian, CN-230-220 ini mampu beroperasi siang atau malam. Berbeda dari varian sebelumnya, CN-235-220 ini memiliki perangkat FLIR yang ditempatkan di bagian perut, sedangkan varian lamanya di hidung sehingga membuat pesawat itu seperti berhidung pinokio. Tanpa hidung pinokio itu, pesawat patroli ini tampak lebih streamline dan ganteng.

Bukan Cuma CN-235

Toh, sesuai kebutuhan masng-masing, pilihan tidak harus ke CN-235. Vietnam dan Filipina memilih NC-212 untuk angkatan bersenjatanya. Kegunaannya sebagai pesawat angkut personel (kapasitas 28 orang), kargo, dan evakuasi medik udara. Seperti pada CN-235, ramp door di pantat NC-212 itu bisa digunakan untuk penerjunan pasukan.

P

Pesawat NC212i. Sumber foto: Dok PT DI

NC-212i ini tentu dilengkapi radar penerbangan standar dan search radar. Bisa juga dipasangi FLIR sebagai opsi. Bisa juga ditambah peluncur roket atau senapan mesin untuk bantuan taktis serangan ke darat. Toh, sejauh ini NC-212 lebih banyak dioperasikan sebagai pesawat kargo, transport, atau evakuasi medis.

Meski awalnya dikembangkan bersama dengan pihak Casa dan Airbus, sejak 2008 produksi NC-212 menjadi hak eksklusif indonesia. Casa-Airbus telah menghapus jenis pesawat ini dari line mata rantai industrinya. Sejauh ini, populasi NC-212 ini mencapai 585. Sebanyak 105 diproduksi oleh PT Dirgantara dan dioperasikan di sejumlah negara Asia. Sebagian besar dioperasikan di dalam negeri, sebagai pesawat militer atau sipil.

Dengan sepasang engine turboprop GarretAiResearh, NC-212 ini dikenal stabil. Dengan kecepatan jelajah 370 km per jam, pesawat ini masih stabil melayang dengan laju di bawah 100 km/jam. Oleh karenanya, pesawat itu juga cocok menjelajahi medan bergunung-gunung serta take-off dan landing di landasan pacu yang pendek dan sulit.

Indonesia tidak berhenti pada pesawat angkut turboprop. Bekerja sama dengan Turki, Dirgantara siap memproduksi pesawat tanpa awak (drone) yang sanggup melaksanakan misi jauh di belakang garis pertahanan musuh. Dengan Korea, Indonesia sedang mengembangkan pesawat jet tempur taktis. Tak hanya di jenis fixed wing, Inddonesia juga telah menjual rotary aircraft (helikopter).

Bermula dari ketentuan pemerintah bahwa semua pesawat heli yang dibeli pemerintah Indonesia harus dirakit di Bandung untuk alih teknologi, kini sejumlah perusahaan pun telah mempercayai PT Dirgantara untuk merakit dan menjual produk helikopternya. Sejumlah komponen kini telah pula diproduksi di Bandung.

Maka, kini PT Dirgantara Indonsia juga menjadi agen untuk heli  H-215 SuperPuma hasil rancangan Konsorsium Eurocopter Eropa. Dalam varian  militernya, heli besar dengan kecepatan 270 km/jam dengan daya angkut hampir 4 ton itu disebut Super Cougar.

Ada pula heli BELL 412EP yang diproduksi atas lisensi dari Bell Industries Amerika Serikat (AS). Heli tempur ini punya reputasi hebat di berbagai medan perang. Sejak mendapat lisensi pada 2013, PTDI telah memproduksi 63 unit BELL 412EP, sebanyak 30 unit di antaranya dipesan oleh TNI dan Polri. (P-1)//RATU

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed