Mengenal Siklus Reproduksi pada Kucing Betina

MARGOPOST.COM | Bogor – Kucing memiliki sedikit perbedaan dengan manusia dalam siklus reproduksinya. Perbedaan itu antara lain pada manusia indung telur memproduksi telur secara teratur, sedangkan indung telur kucing betina hanya melepaskan telurnya ketika kucing mengalami kopulasi atau perkawinan saja (non-spontaneous ovulation) sehingga kucing betina tidak mengalami masa proses peluruhan peluruhan dinding rahim disertai robeknya pembuluh darah atau yang biasa kita sebut masa mentruasi. Kucing betina mengalami dewasa kelamin dimulai pada usia 6-8 bulan, disebut dewasa kelamin ketika kucing betina mulai mengalami birahi.
Siklus birahi (estrus) adalah siklus reproduksi teratur yang dialami oleh hewan betina. Siklus birahi kucing betina memiliki 4 fase yaitu fase proestrus, fase estrus, fase disestrus, dan fase anestrus. Kucing betina memasuki fase proestrus jika kucing terlihat gelisah, vagina terlihat memerah, lembab dan sedikit bengkak yang disertai pula peningkatan nafsu makan.
Pada fase ini kucing sudah memasuki masa heat, dimana kucing jantan mulai tertarik mengawini namun kucing betina masih menolak. Fase proestrus terjadi selama 1-2 hari. Fase kedua adalah fase estrus atau umum disebut fase birahi, dimasa terjadinya proses reproduksi seksual. Kucing betina telah siap “menerima” kucing jantan.
Periode ini terjadi 4-10 hari. Kucing betina umumnya memperlihatkan sifat yang lebih manja, suka bergulung-gulung dan menggosok-gosokkan bagian tubuh ke tembok atau kaki pemilik, suara terdengar lebih melengking, dan suka mengangkat ekor ke satu sisi tubuh. “Namun demikian, masing-masing individu dapat menunjukkan gejala birahi yang berbeda-beda,” ujar drh. Farissa Romadhiyati, Dokter Hewan BBPKH, Sabtu (09/01/2019).


Fase proestrus dan estrus umumnya sulit dibedakan secara jelas. Setelah Fase Estrus berakhir, kucing betina akan memasuki fase diestrus atau masa tidak ingin dikawini, fase ini berlangsung selama 1-2 minggu. Kucing betina akan terlihat secara agresif menolak untuk dikawini. Jika setelah masa ini berakhir namun tidak terjadi kehamilan, kucing akan kembali pada fase awal yaitu fase proestrus. Fase yang terakhir adalah fase anestrus yang sering disebut sebagai musim non-breeding. Salah satu faktor penting dari birahi adalah tersedianya sinar matahari dan suhu lingkungan yang cukup.
Di negara yang memiliki 4 musim, biasanya masa kawin terjadi pada bulan dimana tersedia sinar matahari yang cukup, umumnya terjadi pada bulan januari – september. Di Indonesia dimana matahari bersinar cukup teratur, fase anestrus jarang bisa diamati.
Kehamilan pada kucing berlangsung selama 63 hari (61-69 hari). Jarak satu kehamilan dengan kehamilan selanjutnya adalah 8 minggu. Dalam satu kehamilan, rata-rata 5 kitten (anak kucing) dilahirkan. Kehamilan semu Pseudo-pregnancy atau kehamilan semu dapat terjadi pada kucing, walaupun jarang ditemukan dan tidak sesering dijumpai seperti pada anjing. Pada kehamilan semu, kucing menunjukkan tanda – tanda umum seperti yang dijumpai pada pada kucing hamil seperti muncul gejala muntah, nafsu makan menurun, payudara membesar, serta perut membesar, namun ketika dilakukan pemeriksaan menunjukkan bahwa tidak ada fetus dalam rahim.
“Penyebab dari kehamilan semu belum diketahui dengan pasti, namun diperkirakan karena kucing mengalami ketidak-seimbangan hormon (progesteron dan prolaktin). Sumber lain lain mengatakan bahwa hal ini terjadi karena kucing betina yang melakukan perkawinan dengan kucing jantan steril sehingga memicu indung telur untuk melepaskan telur yang pada akhirnya tidak dibuahi. Kehamilan semu dapat berlangsung antara 1 – 2 bulan,” tambah Farissa.
Terdapat dua jenis kontrol birahi yang dikenal. Yang pertama adalah Kontrol Birahi Irreversible yaitu kontrol birahi untuk membuat birahi tidak kembali serta mencegah kucing betina dari kehamilan secara permanent. Tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan tindakan steril / ovariohysterectomy yaitu prosedur bedah untuk pengambilan ovarium, tuba falopii dan uterus.
Kontrol Birahi yang kedua adalah yang bersifat reversible yaitu untuk membuat birahi tidak kembali serta mencegah kucing betina dari kehamilan secara sementara, tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan cara pemberian hormon progesteron. Dengan cara ini kucing betina tidak akan mendapatkan masa birahinya selama 6 bulan. Walaupun terkesan lebih mudah dilakukan, namun pengulangan pemberian hormon progesteron tidak dianjurkan karena akan memperbesar resiko pyometra pada kucing betina,” ujar Farissa.
“Dengan memahami siklus reproduksi kucing betina, diharapkan para pemilik ataupun pecinta kucing dapat menentukan perawatan kesehatan mana yang paling cocok untuk kucing kesayangannya sehingga aspek animal welfare tetap dapat terpenuhi,” tutup Farissa. (FR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *