by

Mendorong Pengakuan Unesco terhadap Geopark Kaldera Toba

MARGOPOST.COM | SAMOSIR – Apa pentingnya pengakuan Unesco? Dalam framework pengembangan destinasi itu selalu menggunakan konsep 3A yakni atraksi, akses, dan amenitas. Jika ingin menjadi global player, harus menggunaka global standart.

Akhir Juli lalu, Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara mengunjungi Geopark Kaldera Toba, di Desa Sigulatti, Kabupaten Samosir. Geopark ini merupakan salah satu ikon pariwisata di Sumatra Utara yang memadukan keragaman geologi, hayati, dan budaya. Keindahan alam Kaldera Danau Toba dan juga sejumlah situs purba ditemukan di kawasan ini.

Pemerintah Indonesia saat ini tengah mendorong agar Taman Bumi Kaldera Toba juga bisa diakui dan masuk Jaringan Taman Bumi Global Unesco. Untuk diketahui, Indonesia telah memiliki empat geopark yang sudah diakui Unesco, yaitu Gunung Batur di Bali, Ciletuh di Jawa Barat, Gunung Sewu di Jawa Timur, dan Rinjani di Lombok.

Usai mengunjungi Geopark Kaldera Toba, Presiden Jokowi dan rombongan meninjau proyek percontohan pengembangan Peternakan Sapi Belgian Blue, di Desa Parsingguran, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Di lahan pengembangan peternakan sapi ini terdapat kebun jeruk yang siap panen. Ketika melewati kebun jeruk, Ibu Negara terlihat memetik jeruk yang siap panen. Kemudian Presiden meninjau hasil panen di antaranya berupa jagung, jeruk, bawang merah, cabai, kentang, dan tomat.

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata menetapkan Geopark Danau Toba sebagai salah satu destinasi superprioritas di Indonesia. Kini Geopark Kaldera Danau Toba diusulkan masuk ke dalam Unesco Global Geopark (UGG).

Mengapa harus mendapatkan stempel UGG? Seperti yang dikatakan Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam framework pengembangan destinasi itu selalu menggunakan konsep 3A, yakni atraksi, akses, dan amenitas. Jika ingin menjadi global player, harus menggunakan global standart.

Di tengah Danau Toba terdapat Pulau Samosir dengan ketinggian berkisar antara 900 hingga 1.600 meter dpl, yang terbentuk akibat pengangkatan dasar danau pascaerupsi kaldera yang terjadi pada 74.000 tahun yang lalu, sebagai akhir dari proses pencapaian kesetimbangan baru pascaerupsi kaldera supervolcano.

Letusan Gunung Api Toba Purba tersebut menyisakan lekukan dalam di dasar kaldera yang kemudian terisi air, dan kini kita kenal sebagai Danau Toba. Danau Toba mempunyai ukuran panjang 87 km ke arah Barat Laut-Tenggara dengan lebar 27 km dengan ketinggian 904 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan kedalaman mencapai sekitar 550 meter dan luasnya 1.130 kilometer persegi.

Kawasan dinding Kaldera Toba memiliki morfologi perbukitan bergelombang sampai terjal dan lembah-lembah membentuk morfologi dataran dengan batas caldera rim watershed DTA Danau Toba dengan luas daerah tangkapan air (catchment area) 3.658 km² dan luas permukaan danau 1.103 km². Daerah tangkapan air ini berbentuk perbukitan (43%), pegunungan (30 %) dengan puncak ketinggian 2.000 meter dpl (27%) sebagai tempat masyarakat beraktivitas.

Pascaletusan dan terbentuknya kaldera atau danau, juga menciptakan bentukan lain, yakni Pulau Samosir. Ini terjadi akibat pengangkatan sebagian besar danau ke permukaan. Karena sejarah dan karakter geologisnya yang istimewa ini, pada Januari 2018, kawasan Danau Toba diresmikan sebagai Geopark Nasional Kaldera Toba.

Geopark adalah wilayah geografis, tunggal, dan terpadu yang memiliki situs dan lanskap geologi yang memiliki nilai penting bagi dunia. Kawasan ini dikelola dengan konsep menyeluruh, meliputi perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.

Jika ingin memahami Geopark Kaldera Toba kita mesti sampai dari Pusuk Buhit di Pulau Samosir. Untuk sampai di Pusuk Buhit Geopark Kaldera Toba kita mesti menyeberangi Danau Toba dari Parapat dengan kapal feri, mendarat di kawasan Tomok, Samosir. Pusuk Buhit bisa dicapai dari Tomok dengan mobil dalam waktu sekitar 3 jam. Di sini terdapat bangunan megah, Pusat Informasi Geopark Kaldera Toba.

Geopark Kaldera Toba terpusat di kawasan puncak, perkampungan si Raja Batak, di lereng gunung Pusuk Buhit. Dari kawasan inilah dipercaya sebagai asal mula orang Batak. Dari sini, orang Batak pergi ke penjuru Indonesia dan dunia. Dari tempat bermukim dan berkembangnya Raja Batak beserta keturunannya, beserta peninggalan sejarah adat dan budaya terhampar Geosite Pusuk Buhit di Geopark Kaldera Toba.

Ada banyak peninggalan sejarah di Pusuk Buhit ini. Ada situs, batu sawah, Batu Hobon yang berumur ratusan tahun, tungku, dan lereng bukit perkampungan Raja Batak. Budayanya juga kaya dengan kesenian, tarian tor-tor, dan nyanyian dengan pantun penuh makna.

Geopark Kaldera Toba melestarikan tiga keragaman, yaitu geodiversity atau keanekaragaman batu-batuan dan hayati. Lalu culture diversity atau keragaman budaya, seperti yang dikembangkan di perkampungan si Raja Batak. Serta biodiversity atau keragaman hayati etno botani Batak, dilakukan di pusat pelestarian tanaman khas Batak seperti sampinur tali, hariara, dingol, aurekce, andaliman, dan jabi-jabi.

Selain Pusuk Buhit, Geopark Kaldera Toba juga memiliki 15 warisan budaya, geologi, dan biologi lainnya, yang kini menjadi destinasi wisata unggulan di kawasan danau terbesar di Asia Tenggara ini.

Apa saja? Sipiso Piso-Tongging, Silalahi Sabungan, Haranggaol, Sibaganding Parapat, Taman Eden, Balige-Liang Sipege-Meat, Situmurun-Blok Uluan, Huta Ginjang, Muara-Sibandang, Sipinsur-Baktiraja, Bakkara-Tipang, Tele-Pangururan, Hutatinggi-Sidihoni, Simanindo-Batu Hoda dan Ambarita-Tuk Tuk-Tomok./hdr.-

loading...

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed