by

Keturunan ke-13 raja Daya – Daya Teuku Saifullah Bin Teuku Hasymi El Hakimi

MARGOPOST.COM | ACEH – Sebuah balai beratap seng dengan ukuran 5×7 meter berdiri persis di kaki bukit yang menjorok ke laut, di pesisir Desa Kuala Daya, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Setiap setahun sekali, tepatnya pada Hari Raya Idul Adha, balai yang sangat sederhana ini disulap menjadi Astaka Diraja (istana raja).

Di balai ini pula Raja Negeri Daya menjalani upacara seumeuleueng dan seumeunap, tradisi yang dipelihara turun temurun oleh masyarakat setempat. Tradisi Seumeuleung pertama sekali digelar saat Sultan Umar bin Abbas dikukuhkan sebagai sultan di Kerajaan Daya. Dia kemudian bergelar Sultan Alaiddin Riayatsyah (Poteumeureuhom).

Seperti biasanya, upacara Seumeuleung yang kali ini berlangsung pada Kamis (17/10/2013) dihadiri ribuan masyarakat Lamno dan sekitarnya. Terlihat pula sejumlah gadis keturunan Portugis yang terkenal dengan mata birunya, istimewanya, upacara Seumeuleng tahun ini dihadiri oleh sejumlah raja dari “negeri” tetangga, seperti Raja Pidie, Nagan Raya, Blangpidie, Aceh Selatan, Raja Meulaboh, dan lainnya.

Hadir pula Bupati Aceh Jaya, Ir Azhar Abdurrahman dan tokoh masyarakat setempat. Upacara itu terasa lebih lengkap karena dihadiri Pemangku Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haytar.

Prosesi seumeuleueng dimulai ketika panglima kerajaan yang menggunakan pakaian hitam, syal merah di kepala, dan membawa pedang pusaka melakukan inspeksi Astaka Diraja sebelum raja dan keluarga kerajaan memasuki Astaka.

Dua khadam/meungpeutimang po kemudian melaksanakan seumeuleung (menyuapi nasi) kepada keturunan Raja Daya ke-13, Teuku Saifullah bin Teuku Hasymi el Hakimi. Rangkaian berakhir dengan ziarah ke makam Poteumeureuhom yang berada di puncak bukit bernama Gle Jong, Desa Kuala Daya, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya.(serambi)/RD

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed