Imaji Kebangsaan dan Kisah Persahabatan dari Blora

Merenungkan kembali kekerabatan antara Pramoedya dengan Herman Pratikto yang diduga merupakan nama “orang peranakan” dengan kemampuan menerjemahkan semangat Nasionalisme dalam karya-karya Jin Young menjadi semangat antikolonial dalam serial Bende Mataram sesungguhnya merupakan keasikan tersendiri.

MARGOPOST.COM | Pada suatu ketika di sebuah dusun kecil yang terletak di kaki Gunung Sumbing, tinggallah dua  sahabat yang bertekad menghabiskan sisa umurnya menjadi satu keluarga bersama. Sahabat yang pertama, sedikit lebih tua, bernama Made Tantre. Yang kedua, Wayan Suage. Dari namanya, mereka berasal dari Bali. Mereka adalah bekas prajurit Kerajaan Klungkung yang merantau ke Jawa karena lelah dengan perang saudara yang berkecamuk.

Paragraf di atas adalah kisah yang ada dalam bagian pembuka novel cerita silat populer yang pernah menjadi novel terlaris pada zamannya. Bagi seorang anak sekolah dasar yang baru gemar membaca pada zaman siaran televisi hanya ada satu, kisah pembuka ini tentu membangkitkan imajinasi. Imajinasi tentang dusun, gunung, persahabatan, perang, kerajaan, sejarah, dan perantauan.

Herman Praktikto, kelahiran Blora, Jawa Tengah, 18 Agustus 1929, adalah penulis novel populer itu. Judulnya Bende Mataram. Konon dia menulis novel populer itu di periode 60-an, saat dia menjadi redaktur di sebuah majalah sastra dan budaya terbitan Yogyakarta yang bernama Minggu Pagi. Sangat sedikit riwayat yang diketahui tentang penulis yang oleh Goenawan Muhammad, pendiri Majalah Tempo, digambarkan sebagai penulis yang tenang, mengalir lancar, jenaka, memelas, sekaligus begitu hidup.

Herman Pratikto, ketika menulis novel Bende Mataram ini selalu menyebutkan bahwa dirinya sebagai penggubah cerita, bukan pengarang cerita. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan, apa maksudnya? Bukankah lazim menuliskan dirinya sebagai pengarang? Jika dia memang seorang penggubah cerita apa yang dia gubah?

Pembaca novel zaman sekarang, tentu dengan sangat mudah akan menemukan plot yang sama antara Bende Mataram dan novel Wuxia karya Jin Young, penulis legendaris dari Hong Kong. Apalagi karya Jin Young telah berkali-kali menjadi film serial yang sangat populer di Asia.

Jin Young yang meninggal pada tahun 2018 lalu adalah penulis cerita Wuxia atau Silat Fantasi berlatar sejarah China. Legend of The Condor Heroes yang dia tulis di akhir 50-an adalah  cerita bersambung yang dia tulis di Koran Hong Kong Commercial Daily.

Apakah pada periode Jin Young menulis di koran Hong Kong, Herman Pratikto menjadi pembaca setia koran impor itu? Ataukah Herman Pratikto mendapatkan terjemahan cerita bersambung itu dari penerjemah Indonesia? Sampai tulisan ini dibuat belum ada data yang mengkonfirmasi proses kreatif Herman Pratikto saat menulis novel yang bernuansa Jawa masa kolonial dengan plot fantasi kisah dari China daratan.

Penerbit Mekar Djaja tercatat menerbitkan terjemahan Sia Tiaw Eng Hiong, karya Jin Young pertama kali pada 1963. Penerjemahnya bernama pena Aulia. Buku serial itu diberi judul Memanah Burung Rajawali. Setelah melalu penelusuran lebih jauh ternyata Aulia adalah nama pena dari Oey Kim Tiang, penulis tionghoa senior yang berasal dari Tangerang. Nama Aulia dia pakai sebagai pengganti inisial OKT yang sebelumnya selalu dia pakai dalam penerbitan cerita bersambung di Majalah Keng Po terbitan Batavia-Jakarta.

Apakah Herman Pratikto, yang karyanya diterbitkan menjadi buku pertama kali oleh penerbit Kedaulatan Rakyat pada 1967 adalah penggemar karya-karya Aulia dari Mekar Djaja? Hingga saat ini belum ada data yang mengkonfirmasi.

Besar kemungkinan Herman Pratikto bisa mendapatkan naskah berbahasa Hok Kian dalam koran-koran yang dia dapatkan saat menjadi wartawan di Surabaya pada 1957. Jika Herman Pratikto mempunyai kemampuan menggubah naskah Jin Young menjadi berkarakter Indonesia, bukankah Herman Pratikto sesungguhnya melakukan kerja sastra yang luar biasa.

Konteks sejarah pada saat Oey Kim Tiang menerjemahkan karya-karya Jin Young di Jakarta adalah saat Presiden Soekarno sedang ada pada periode yang tidak menguntungkan. Politik nasional “anti barat” membuat penerbitan koran-koran yang menulis cerita-cerita fiksi silat Hong Kong dianggap tidak berkepribadian nasional.

Hal ini adalah salah satu hal yang membuat Oey Kim Tiang harus menunggu beberapa waktu bersama dengan penerbit Mekar Djaja untuk menerbitkan karya terjemahannya. Bisa jadi, proses kreatif penerjemahan karya Jin Young dan penggubahan karya itu menjadi Bende Mataram sesungguhnya berada pada satu masa kreatif yang sama.

Herman Pratikto, menurut Koesalah Subagyo Toer masih sepupu dengan Pramudya Ananta Toer. Mereka adalah teman semasa kecil. Umur mereka hanya terpaut empat tahun. Sebelum jaman revolusi kemerdekaan, ketika Herman Pratikto dan Pram masih remaja mereka mempunyai beberapa riwayat persahabatan yang cukup unik. Beberapa cerita kedekatan mereka ditulis Herman Pratikto di majalah yang dia asuh, yakni Minggu Pagi.

Konon bapak Pramoedya adalah priyayi yang berasal dari kediri sedangkan ibunya berasal dari keluarga santri di Rembang. Jika riwayat itu dicocokkan dengan Herman Pratikto, yang melalui masa pendidikan yang sama dengan Pramoedya, bukankah pertalian itu bukan kebetulan. Membaca kembali karya-karya dua sahabat asal Blora ini bukankah akan bertemu semangat Nasionalisme yang sama? Merenungkan kembali kekerabatan antara Pramoedya dengan Herman Pratikto yang diduga merupakan nama “orang peranakan” dengan kemampuan menerjemahkan semangat Nasionalisme dalam karya-karya Jin Young menjadi semangat antikolonial dalam serial Bende Mataram sesungguhnya merupakan keasikan tersendiri./hdr.-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *