by

IGD dipindahkan ke halaman parkir agar bisa dipakai untuk ruang rawat.

MARGOPOST.COM | JAKARTA – Lonjakan kasus baru Covid-19 masih terus berlangsung. Bahkan, Indonesia telah mencatatkan rekor paling kelabu pada Kamis,  24 Juni 2021. Dalam 24  jam dilaporkan ada tambahan 20.574 kasus baru,  rekor tertinggi di sepanjang  pandemi Covid-19 di tanah air. DKI Jakarta menyumbang jumlah terbesar, dengan 7.505 kasus, disusul Jawa Tengah 4.384 kasus, dan Jawa Barat 3.053 kasus.

Suasana kelabu itu ditambah pula dengan catatan pahit bahwa pada hari itu ada 355 pasien Covid-19 yang meninggal  dunia. Angka kematian harian yang buruk. Namun, yang terburuk datang pada hari berikutnya, Jumat (25/6/2021), yang mencatatkan angka kematian sampai 422 orang, ketika secara nasional kasus positif Covid bertambah 18.872 kasus.

Dengan lonjakan kasus baru itu, Indonesia telah membukukan adanya 2.072 juta kasus positif Covid-19, terhitung sejak pandemi bergulir Maret 2020. Angka kematian (fatality rate) mencapai 2,72 persen (56.371 orang). Kasus positif aktif  tercatat 181.435 kasus, angka tertinggi sejak pandemi.

Dalam lonjakan Covid-19 gelombang kedua kali ini DKI Jakarta kembali menjadi penyumbang  yang terbesar. Secara kumulatif, per 25 Juni 2021 lebih dari 482 ribu penduduk DKI pernah atau sedang mengalami infeksi Covid-19. Dengan populasi penduduk 10,56 juta (sensus penduduk 2020), maka 4,5 persen penduduk Jakarta pernah punya pengalaman dengan Covid-19. Hampir satu dari 22  warga DKI pernah menyandang status positif Covid-19. Namun, fatality rate di Jakarta 1,6 persen, terendah di Indonesia.

Hingga 25 Juni, di DKI Jakarta tercatat ada 32.521 kasus Covid-19 yang aktif, dan itu menyumbang 17,9 persen dari kasus aktif nasional. Jawa Barat di posisi dua, hanya terpaut tipis dari DKI, dengan  32,485 kasus aktif. Jawa Tengah pada posisi ketiga dengan mengkontribusikan 27.685 kasus (17,9 persen). Dan yang keempat, Provinsi Papua yang menyumbang 8.936 kasus aktif (4,9 persen).

Situasi Jawa Timur cukup terkendali dengan mencatatkan 5,673 kasus aktif (3,1 persen). Posisinya jauh di bawah DIY yang meregristasi adanya 6.467 kasus aktif (3,5 persen). Namun, beberapa hari belakangan situasinya cukup menggeliat naik. Suksesnya menahan transmisi ledakan di Bangkalan Madura, tak berarti Jatim mudah membendung lonjakan di daerah lainnya.

Dengan membumbungnya kasus aktif Covid-19 ini tak pelak rumah-rumah sakit rujukan kebanjiran pasien. Bed occupancy ratio (BOR) melonjak tinggi. Secara nasional BOR masih di 68 persen, tapi di Jateng, DIY, dan Jawa Barat angkanya sudah mendekati 85 persen. Di beberapa kabupaten di Jateng, seperti Kudus, Demak, Jepara, yang menjadi episentrum Covid-19, BOR-nya sudah 100 persen. Pasien pun diboyong ke RS rujukan di daerah tetangga.

Namun secara rata-rata provinsi, BOR di DKI Jakarta sudah di atas 90 persen. Sejumlah rumah sakit di Jakarta sudah menambah kapasitas ruang rawat untuk pasien Covid-19. Toh, tetap saja kewalahan menampung pasien. Penambahan tempat tidur tidak sebanding dengan pasien Covid-19 yang terus membanjir. Kondisi serupa terjadi di Depok, Tangerang, dan Bekasi.

UGD Geser ke Parkiran

Kepayahan menampung pasien, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, memboyong Unit Gawat Darurat (UGD) ke tenda besar di pelataran parkir. Ruang UGD digunakan sebagai ruang rawat dan memberi tambahan 75 bed untuk pasien Covid-19.  Namun tak urung ruang UGD darurat yang berisi 30 bed itu pun penuh pada Jumat (25/6/2021) pagi, hanya berselang dua hari setelah dioperasikan.

Pemandangan yang dramatis  pun terekam di kamera smartphone, dan viral. Seorang pasien lelaki tergeletak di lantai parkir beralaskan tikar menunggu giliran pemeriksaan. Satu pasien perempuan tergolek di lantai bak truk, dan seorang tenaga kesehatan (nakes) tampak bergegas memeriksanya.

‘’Ruang UDG penuh, mereka tidak bisa duduk menunggu di kursi roda,” kata Direktur RSUD Bekasi Kusnanto Said. Ruang UGD tenda itu pun bukan hanya untuk pasien Covid-19. “Jadi, tenda itu tempat skrining. Di situ proses pemeriksaan awal untuk menentukan tindakan lebih lanjut bagi pasien,” Kusnanto menambahkan.

Khusus bagi pasien dengan gejala Covid-19 harus menunggu di tenda itu dan menjalani perawatan pertama. Sambil, tentunya, mereka menunggu hasil PCR keluar.

Inisitif  RSUD Chasbullah Kota Bekasi itu boleh jadi dianggap sebagai tindakan yang sesuai di tengah situasi darurat. Dalam konferensi pers yang digelar virtual, Jumat siang, Menteri Kesehatan Budi Gunadi menginstruksikan rumah-rumah sakit rujukan, terutama di Jakarta, untuk memindahkan instalasi gawat darurat (IGD) ke tenda-tenda di pelataran parkir. Dengan demikian, ruang IGD bisa dipakai untuk ruang rawat. Tenda-tenda akan disediakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menteri Budi Gunadi Sadikin juga telah menginstruksikan agar tiga buah rumah sakit pemerintah di Jakarta, yang berada di bawah Kementerian Kesehatan, yakni RSPI Sulianti Saroso, RS Persahabatan, dan RS Fatmawati untuk sementara waktu hanya memberikan pelayanan 100 persen bagi pasien Covid-19.

‘’Dengan konversi tersebut, terdapat ratusan tempat tidur perawatan baru bagi para pasien Covid-19, lengkap dengan fasilitas, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya, yang siap melayani pasien,” ujar Budi Gunadi.

Tower Karantina

Bukan hanya ruang rawat inap pasien yang digenjot. Bekerja sama lintas instansi, pemerintah juga menambah ketersediaan tempat untuk karantina pasien Covid-19 yang bergejala ringan atau tidak bergejala. Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran yang sebelumnya menyediakan 5.990 bed telah ditambah 1.300 tempat tidur baru, menjadi 7.390 unit, dan sudah hampir semua terisi.

Maka, bekerja sama dengan Pemprov DKI dan BNPB, Kementerian Kesehatan berupaya menambah tempat karantina, dengan mengaktifkan dua tempat isolasi baru, yakni Rumah Susun (Rusun) Pasar Rumput (Jakarta Selatan) dan Rusun Nagrak (Jakarta Utara). Rusun Pasar Rumput memiliki tiga tower yang dapat menjadi tempat isolasi bagi kurang lebih 3.000 pasien, sementara Rusun Nagrak terdiri atas empat tower yang dapat melayani 4.000 pasien.

Menurut Menkes Budi Gunadi, secara bertahap pasien karantina yang tidak bergejala dan bergejala ringan akan dipindahkan ke Nagrak dan Pasar Rumput. “Selanjutnya, RS Darurat Kemayoran akan digunakan untuk merawat pasien Covid-19 dengan gejala sedang,” ujarnya.

Menkes menekankan agar proses pemindahan itu dilakukan dengan skrining yang ketat agar pasien yang bergejala sedang tidak berbaur dengan pasien tanpa gejala./hdr.-

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed