by

BIMBINGAN TEKNIS FASILITATOR PELATIHAN INVESTIGASI KLB/ WABAH TERPADU DENGAN PENDEKATAN ONE HEALTH BAGI PETUGAS EPIDEMIOLOGI LAPANGAN DI SUMATERA BARAT

MARGOPOST.COM | Bogor – Pertumbuhan eksponensial dari populasi manusia dan hewan ternak, angka urbanisasi yang tinggi, perubahan sistem pertanian, kerusakan hutan, perubahan ekosistem dan globalisasi perdagangan hewan dan produk hewan telah mengantarkan umat manusia pada tantangan global penyebaran penyakit infeksius yang baru muncul (emerge) atau muncul kembali (re-emerge) yang sangat erat kaitannya dengan manusia, hewan, dan ekosistem tempat mereka tinggal. 75% penyakit infeksi emerging bersifat zoonosis dan berpotensi menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB)/ wabah di Indonesia atau bahkan meluasnya KLB/ wabah antarnegara yang dikenal dengan pandemi.

Integrasi dari segala bidang keilmuan (kesehatan dan lingkungan) sangat diperlukan untuk bersama-sama memikirkan jalan keluar atas ancaman KLB/ wabah akibat penyakit zoonosis. “One Health” sebagai sebuah konsep yang mendasarkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan/ ekosistem bersifat saling bergantung satu sama lain melalui kolaborasi antardisiplin terkait sehingga dipandang tepat dalam mencegah ataupun mengendalikan penyebaran penyakit, kesehatan ekosistem, serta kemunculan patogen baru dan agen zoonotik yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas serta berdampak pada pertumbuhan sosioekonomik.

Indonesia One Health University Network (INDOHUN) bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Pusat Pelatihan SDM Kemenkes RI,  Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Dirjen PKH Kementan RI, FETP UGM, Dinas Peternakan Kulonprogo, Kementerian Koordinasi PMK, dan FKM UI memiliki peran penting dalam meningkatkan kompetensi tenaga epidemiologi lapangan dalam melakukan investigasi KLB/ wabah. Kurikulum Pelatihan Investigasi KLB/Wabah Terpadu Dengan Pendekatan One Health Bagi Petugas Epidemiologi Lapangan diharapkan akan diakreditasi sebesar 2 kredit oleh PPSDM Kemenkes RI. Kredit ini akan diberikan kepada peserta yang telah mengikuti pelatihan jarak jauh (online) dan in-class sehingga peserta memperoleh output yang bermutu dan diakui secara nasional. Tutup Dwi Windiana.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed